Home
Rubrik
Tentang kami
News / Rubrik / Budaya
Lucu Mulai Kata Pengantar
By sukar
Rabu, 12-Juli-2006, 22:44:48 332 clicks Send this story to a friend Printable Version
Malaria boleh dilawan pakai buah bagore. Panas dalam bisa dielak dengan selasih.
Tapi, sakit di hati cuma satu obatnya: tawa! Pemicu tawa bisa macam-macam. Mulai lewat menggoda si looser sampai lewat baca buku. Contoh bukunya, Sakit ˝ Jiwa karya Endang Rukmana, alumnus SMAN 1 Serang tahun 2004. Pada tahun yang sama ia meraih Unicef Award For Indonesian Young Writer.
Sore itu, Senin (10/7), penuh tawa kelima bookaholic DetEksi Jawa Pos. Wajah Meyta Minggar, Afif Candra Kusuma, Yerinda Aprilia, Lukman Hakim, dan Dhani Ratnaningtyas sama-sama cerah. Buku yang dibahas memang jago mengundang tawa.
“Dari awal baca kata pengantarnya saja, aku sudah terbahak. Kocak banget si Endang Rukmana itu. Guyonannya tak habis-habis,” ulas Yerinda.
Lukman membenarkan. Guyonan konyol di Sakit ˝ Jiwa bahkan membuatnya senyum-senyum sendiri. “Ceritanya lucu. Justru karena tak masuk akal, buku ini jadi punya nilai plus,” sahutnya.
Lukman kemudian mengingatkan teman-temannya soal cerita di kala kakek yang selalu muncul di mimpi Bobi mengirim SMS. “Ada-ada saja deh. Kakek yang sudah meninggal kok bisa masih bisa kirim SMS dan e-mail,” ucapnya sambil geleng-geleng.
Afif setuju. Tapi, baginya, cerita di buku yang memanfaatkan foot note ala novel Adhitya Mulya ini nggak hanya penuh imajinasi. “Banyak tebakan lucunya!” seru pelajar SMKN 11 ini.
Dhani memutar obrolan soal banyolan di buku ini ke seting cerita yang baginya luar biasa. “Aku jadi ingin melihat langsung kehidupan suku Baduy.”
“Aku juga. Aku penasaran melihat langsung ritual khusus pernikahan ala suku Baduy,” timpal Afif.
Obrolan kemudian beralih ke karakter-karakter pengisi cerita ini. “Aku paling sebal sama tokoh Bobi. Apatisnya minta ampun. Ia juga suka memainkan perasaan perempuan,” cerca Yerinda.
Dhani merasa punya perasaan sama. “Meski punya wajah ganteng kayak Tora Sudiro, aku nggak bakalan mau jadian sama dia,” katanya.
Sebagai kaum cowok, Lukman membela Bobi. “Aku suka gaya pacaran mereka. Walau saling cuek, tapi tetap mesra. Salut sama Monda yang bisa nerima Bobi walau Bobi selingkuh beberapa kali,” ujar Lukman.
“Gaya pacaranku juga mirip sama mereka. Aku pernah ngejitak pacarku di depan umum. Begitu keras sampai dilihat banyak orang. Tapi, cewekku tak marah, dia mirip Monda yang sabar,” imbuhnya. *
Discussion
Latest Post
Latest Response
E-Paper

Link