 |
 |
|
 |
 |
|
| News /
Rubrik
/ Budaya |
|
| MATAHARI SENJA | | By redaksi |
| Minggu, 06-Juli-2008, 05:52:18 |
689 clicks |
 |
 |
|
|
| Setiap senja makin memerah. Setiap daun – daun Lamtoro di tepi jalan itu menguncup tunduk bak gadis belia kasmaran ditatap sang pujaan. |
|
|
Oleh: Alia Husni
Dan di setiap suasana itu baginya tertistimewa. Katanya, matahari yang bertengger keemasan di ufuk barat itu seperti tersenyum padanya. Senyumannya melebihi manisnya senyuman lukisan Monalisa di Moseum Louvre Paris.
Wajah itu ayu, rambutnya ikal tergerai sebahu, jika wajah ovalnya itu tersenyum kisut – kisut lesung pipitnya tersembul, cantik. Irai wajahnya mendekati artis popular Paramitha Rusady. Bahkan bagiku teramat cantik, cantik yang selalu terpancar dari hatinya yang putih. Walau mata indahnya itu menatap kosong, gelap, tak ada sesuatu yang dapat ia lihat. Namun begitu, aku tetap bangga padanya, kakakku yang tertua si tulang punggung keluarga. Ah…tak ada bandingannya.
Yah, mata itu telah buta setahun yang lalu, tapi ia selalu menyuruhku untuk bercerita, cerita apa saja yang ku baca, termasuk keindahan senyuman pada lukisan Monalisa.
Hingga musim ini, hujan dan mendung yang acapkali mengeruhkan cakrawala, menyembuyikan pesona jingga, membuat wajah oval itu hanya termangu di Beranda seperti ingin mengundang senja untuk cepat berubah dan menebarkan hangat nafas matahari senja menyapanya.
Dia, kakak wanitaku, hanya tamatan SD demi kelangsungan sekolah aku dan adik – adikku, ia pernah mengucurkan keringatnya dan mengerahkan otot – ototnya mengeruk Ringgit di negri jiran Malaysia.
***
Masih terpatri dalam ingatanku, tepatnya dua tahun lalu, ketika kali pertama kepulangannya dari Malasyia, untuk cuti sebulan saja di Indonesia ungkapnya.
Pagi itu, ia mengajakku menembus kabut yang masih enggan menipis di udara, menyeruak bintik – bintik embun yang masih malas bergelayutan di dedaunan, hingga dingin terasa menusuki seluruh pori –poriku, ku peluk erat tubuhku dengan kedua lenganku semberi mengejar jejak kakinya menyusuri kelokkan galeng – galeng persawahan.
“Sebenarnya kita mau kemana sih, Teh?” aku mulai lelah saat matahari garang menembus batok kepalaku, namun perjalanan seperti tak kunjung tiba.
“Ke sana…” telunjuknya lurus tepat pada bukit yang selalu tertutup halimun di ujung sana. Bukit Jamungkal namanya, kesan angker dan bau mistis sudah menyembul dari arah kejauhan.
Aku langsung bergidik, bulu romaku mendadak tumbuh meremang, bukit yang kata orang tempat meminta harta pada roh halus atau biasa disebut nyupang itu dari kejauhan terlihat hitam pekat seperti mengisyaratkan di bukit itu sarang berbagai mahluk aneh bergentayangan.
“Bukan untuk memuja di bukit itu, kita ke Aki Arkam” tuturnya di sela – sela sengal nafasnya seperti membaca wajah beliaku yang penuh tanda tanya.
Aku yang sudah duduk di kelas tiga Tsanawiyah waktu itu, tentu sudah bisa membaca gelagat tidak baik dari aura wajahnya, pasti ada sesuatu yang ia tuju. Aki Arkam kakek tua selain profesinya sebagai kuncen bukit itu, ia juga dipercaya memiliki kesaktian mandraguna untuk mengatasi seluk beluk permasalahan pribadi seseorang.
“Tidak Teh, kita engga boleh ke sana!” aku tarik lengannya, dan langsung berdiri tepat di hadapannya, dengan nafas memburu aku angkuh berdiri tegak menghalangi langkahnya. Aku mungkin persis Kogame yang hendak melawan lelembut musuh Inu Yasha di film animasi Jepang itu. Yang jelas mataku nanar tajam menatapnya.
“Teteh cuma mau minta Jimat doang, kok” sahutnya dengan expresi biasa – biasa saja
“Jimat, Teh?!” tanyaku setengah histeris, sejenak ia terdiam dan memandangi wajahku lekat –lekat lalu membuang pandangannya menatap Bukit Jamungkal yang sudah nampak lereng tubuhnya.
“Teteh malu jadi TKW Indonesia, karena setiap Teteh pergi ke pasar atau kemana saja di Malasyia, orang sana selalu bilang TKW Indonesia itu nakal – nakal, penggoda laki – laki, tak baik, macam sampah! Teteh benci dibilang seperti itu padahal Teteh tak pernah melakukan seperti itu”
Aku tarik nafasku perlahan, terasa ada satu tusukkan nyeri menohok dadaku, perjuangan seorang kakak untuk adik dan keluarganya begitu miris aku rasakan. Mungkin keterbatasan pendidikkanlah yang menyeretnya melakukan senekad ini, atau mungkin kerasnya hidup yang membuatnya menempuh jalan pintas seperti ini.
“Teteh hanya ingin minta Jimat pada Aki Arkam, agar orang – orang Malaysia sana tak melihat Teteh sama seperti mereka, Teteh mau kerja lagi di sana untuk biaya kamu masuk SMA, untuk adik – adik kita, untuk mengobati katarak mata Abah, dan untuk menambah biaya warung – warungan Emak, biarkan Teteh menemui Aki Arkam, Neng Lia” pintanya pelan, wajah ovalnya itu mendekati wajahku jelas nampak sinar matanya penuh dengan pengharapan
“Teh…lihatlah bumi ini, gunung, tumbuhan yang subur, langit yang tak bertiang, semua ini ada yang menciptakannya, ada yang mengaturnya, termasuk kita Teh, kita boleh meminta apa saja pada Gusti Allah, jangan pada mahluknya”
Aku tersungkur bersimpuh di kakinya, memohon untuk membatalkan niatnya, tangisku tumpah, bumipun seperti ikut terbawa dalam sedihku, matahari segera sembunyi di balik awan, angin berdesir membelai wajahku dan mempermainklan rambut ikalnya, ku lihat ada titik – titik bening berjatuhan di pipinya, segera ku hapusi dengan jari jemariku, sesaat ia terpaku dan membisu, ia memelukku kamipun menangis dan beriringan kembali pulang ke rumah.
***
Dan masih terpatri dalam ingatanku, tepatnya setahun yang lalu, ketika kali kedua kepulangannya dari Malaysia, wajah itu masih nampak cantik, namun menatapku beku, senyumku tak dibalasnya, menggapaiku meraba – raba, ia menangis akupun menghamburnya.
“Te…Teteh bukan gadis nakal, Neng Lia”
Hanya itu jawabnya, selebihnya hanya tangis pedih yang menyeruakkan elegi pilu di hati setiap orang yang mendengarnya.
Tak lama ku ketahui bahwa ia akan diperkosa oleh majikannya Tuan Hamid dan kepergok istrinya. Namun Tuan Hamid bilang Teh Rahma yang menggodanya istrinya langsung percaya dan langsung memukul muka Teh Rahma dengan gagang sapu yang dilapisi besi alumunium yang direbut dari genggaman Teh Rahma hingga mengenai kedua bola mata dan retina mata Teh Rahma mengalami kerusakan hingga buta.
“Dasar! Wanita Indonesia penggoda laki – laki, macam sampah!” itu maki istrinya berulang – ulang.
Peristiwa itu terjadi ketika matahari senja tengah membuai kota Johor, ketika tatanan eksotiknya bungan – bunga Adenium di Balkon lantai dua itu sedang disiangi Teh Rahma. Dan ketika itu pula terakhir Teh Rahma melihat matahari senja sebelum akhirnya hanya gelap… dan gelap.
***
Dan setiap matahari senja mengulum cakrawala, seraut wajah Teh Rahma khusuk menikmati setiap detik suasana itu, ada satu harap terbingkis di hatinya. Satu keajaiban! bukan mengharap agen – agen TKW Indonesia di Malaysia sana mengusut kasusnya, ia sudah paham, agen – agen itu akan beraksi tutup mulut hanya dijejali sedikit Ringgit saja, kata mereka, ini hanya masalah kecil!
Atau mengharap ada tuntutan dari pihak keluargaku ke Malaysia sana. Huh! Itu hanya akan menjadi parodi terlucu bagi orang kecil seperti keluargaku . Keajaiban itu bagi Teh Rahma, bisa menyaksikan secara nyata senyuman matahari senja hari ini, esok, dan selamanya.
“Dan janganlah sekali – kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang – orang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak” ( Qs.Ibrahim 42)
Cilegon, February 2008
Abay Koesnalia nama pena Alia Husni kini timggal di Jl. Oxigen I No. 12 Cilegon aktif di FLP Cab. Serang. |
|
|
|
 |
 |
|
 |
 |