Ekspor Banten Turun 5,49 Persen
Kamis, 02 Februari 2012 | 10:24 WIB
SERANG – Nilai ekspor Banten pada November 2011 mengalami penurunan 5,49 persen dibanding ekspor Oktober 2011. Pada Oktober 2011 ekspor Banten mencapai US 805,23 juta sedangkan pada November 2011 hanya US 760,99 juta.
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten Nanan Sunandi, turunnya nilai ekspor Banten pada periode November 2011 disebabkan turunnya nilai sejumlah barang baik migas maupun nonmigas dari sejumlah negara. “Salah satu komoditas migas yang nilai ekspornya turun signifikan adalah gas yang turun 87,57 persen serta hasil minyak sebesar 100 persen,” kata Nanan dalam acara siaran pers di Kantor BPS di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Rabu (1/2).
Turunnya nilai ekspor sejumlah komoditas migas tersebut, kata Nanan, berpengaruh besar terhadap penurunan nilai ekspor untuk komoditas migas secara umum. “Jika pada Oktober lalu nilai ekpor migas mencapai US 35,84 juta maka pada November 2011 nilai ekspor migas Banten hanya sebesar US 6,02 juta atau turun 83,21 persen,” terangnya.
Selain komoditas migas, lanjut Nanan, barang ekspor lainnya yang ikut turun pada November 2011 lalu adalah barang-barang nonmigas. Pada November, nilai ekspor nonmigas Banten hanya mencapai US 754,98 juta. Padahal, pada periode Oktober mencapai US 769,39 juta. “Berdasarkan persentase penurunan nilai ekpor Banten untuk komoditas nonmigas mencapai 1,87 persen,” jelas Nanan, seraya menyebutkan, jenis komoditas nonmigas yang jumlah penurunannya paling tinggi adalah bahan kimia organik yaitu 11,99 persen yaitu dari US 54,71 juta menjadi US 42,72 juta. “Dari sekian banyak komoditas ekspor nonmigas yang nilainya mengalami penurunan justru ekspor untuk alas kaki mengalami kenaikan 22,77 persen dari US 180,84 juta menjadi US 203,60 juta. Selain itu, komoditas nonmigas lainnya yang tetap naik adalah barang-barang rajuta dari US 23,88 juta menjadi US 31,75 juta,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan negara pengekspor nonmigas, dari 12 negara tujuan terdapat enam negara yang nilainya mengalami kenaikan, salah satunya Jepang dengan nilai US 5,70 juta, sedangkan negara dengan nilai terendah adalah China dengan jumlah US 10,73 juta. (ila/zee/ags)