Ekspor Banten Turun 5,49 Persen

SERANG – Nilai ekspor Banten pa­­da November 2011 mengalami pe­nu­­runan 5,49 persen dibanding ekspor Oktober 2011. Pada Oktober 2011 ekspor Banten mencapai US 805,23 juta sedangkan pada Novem­ber 2011 hanya US 760,99 juta.
Menurut Kepala Badan Pusat Sta­tistik (BPS) Provinsi Banten Nanan Su­­nandi, turunnya nilai ekspor Ban­­ten pada periode November 2011 disebabkan turunnya nilai se­­­jum­lah barang baik migas maupun non­migas dari sejumlah negara. “Salah satu komoditas migas yang ni­lai ekspornya turun signifikan ada­lah gas yang turun 87,57 persen ser­ta hasil minyak sebesar 100 per­sen,” kata Nanan dalam acara siaran pers di Kantor BPS di Kawasan Pusat Pe­merintahan Provinsi Banten (KP3B), Rabu (1/2).
Turunnya nilai ekspor sejumlah ko­moditas migas tersebut, kata Na­nan, berpengaruh besar terhadap pe­­nurunan nilai ekspor untuk ko­mo­ditas migas secara umum. “Jika pada Oktober lalu nilai ekpor migas mencapai US 35,84 juta maka pada No­vember 2011 nilai ekspor migas Ban­ten hanya sebesar US 6,02 juta atau turun 83,21 persen,” terangnya.
Selain komoditas migas, lanjut Na­­­nan, barang ekspor lainnya yang ikut turun pada November 2011 la­lu adalah barang-barang nonmigas. Pada November, nilai ekspor non­migas Banten hanya mencapai US 754,98 juta. Padahal, pada periode Oktober mencapai US 769,39 juta. “Berdasarkan persentase penurunan nilai ekpor Banten untuk komoditas nonmigas mencapai 1,87 persen,” jelas Nanan, seraya menyebutkan, je­nis komoditas nonmigas yang jum­lah penurunannya paling tinggi ada­lah bahan kimia organik yaitu 11,99 persen yaitu dari US 54,71 juta menjadi US 42,72 juta. “Dari se­kian banyak komoditas ekspor nonmigas yang nilainya mengalami penurunan justru ekspor untuk alas kaki mengalami kenaikan 22,77 persen dari US 180,84 juta menjadi US 203,60 juta. Selain itu, komoditas nonmigas lainnya yang tetap naik adalah barang-barang rajuta dari US 23,88 juta menjadi US 31,75 juta,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan negara pengekspor nonmigas, dari 12 negara tujuan terdapat enam negara yang nilainya mengalami kenaikan, salah satunya Jepang dengan nilai US 5,70 juta, sedangkan negara dengan nilai terendah adalah China dengan jumlah US 10,73 juta. (ila/zee/ags)