Anas Solidkan Pengurus
Rabu, 01 Februari 2012 | 11:04 WIB
JAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum ingin tetap menunjukkan bahwa dirinyalah pemegang tampuk pimpinan tertinggi di jajaran dewan pimpinan pusat. Kemarin, di tengah berbagai wacana menggoyang kepemimpinannya belakangan ini, Anas mengumpulkan dan memimpin langsung rapat pengurus harian.
Rapat tertutup yang berlangsung di kantor DPP, Jalan Kramat Raya, Jakarta, dihadiri mayoritas pengurus harian. Menurut Ketua Divisi Komunikasi Publik Andi Nurpati, pengurus harian yang diundang mencapai 66 orang. Terdiri dari 18 pengurus harian terbatas, 46 ketua departemen, dan 12 ketua divisi dan komisi.
Meski demikian, dari hasil pantauan, tidak semua pengurus teras tampak. Di antara yang tidak terlihat hadir adalah Wakil Ketua Umum Max Sopacua dan Wasekjen Angelina Sondakh. “Tapi yang hadir jauh lebih banyak, sekitar 90 persen, Anda bisa lihat sendiri,” ujar Andi Nurpati, seusai rapat.
Saat rapat yang mendapat perhatian luas media itu, Anas memilih menunjuk sejumlah juru bicara. Dia sendiri bungkam, terutama saat disinggung isu yang berkembang di internal Demokrat, belakangan ini. Hanya beberapa celetukan sempat dia sampaikan. “Wah, seandainya setiap rapat bisa ramai seperti ini,” kata Anas, saat para juru gambar mengabadikan dirinya, sesaat sebelum rapat dimulai.
Namun, dari informasi dari salah seorang pengurus yang mengikuti rapat tertutup selama 2,5 jam, Anas juga sempat menyinggung mengenai situasi Demokrat terkini. Di antaranya, mantan Ketua Umum PB HMI itu sempat meminta agar seluruh kader Demokrat tidak berpolitik ke dalam. Kader seharusnya berpolitik ke luar. Sebab, Anas mengingatkan, bahwa gerakan adu domba sedang dilancarkan di antara kader Demokrat, belakangan ini.
Menurut dia, politik adu domba akan terus dilancarkan dalam rangka kompetisi menuju 2014. Tak lupa, dia lantas menggunakan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sebagai penguat permintaannya tersebut. “Adu domba itu dalam bentuk sederhana, berupa pancingan pernyataan antarkader yang digiring ke titik asimetris tertentu. Ini sangat mengganggu. Seperti kata Pak SBY, jangan berpolitik ke dalam,” kata salah satu sumber dari internal pengurus, menirukan permintaan Anas.
Pada kesempatan tersebut, Anas juga disebutkan telah memerintahkan kepada pengurus Demokrat untuk mulai mencicil “perang udara”. Yang dimaksud, adalah mengampanyekan citra positif capaian pemerintah. Dia menyebut, di antaranya, sangat perlunya meng-counter label negara autopilot yang disematkan sejumlah pihak kepada pemerintah.
Selesai rapat, Wasekjen DPP Partai Demokrat Saan Mustofa dan Ramadhan Pohan didampingi Andi Nurpati yang ditunjuk untuk menyampaikan hasil-hasil yang dicapai. Anas yang didampingi Sekjen Edhie Baskoro Yudhoyono beserta pengurus lainnya memilih untuk tetap bungkam.
Saan menyatakan, rapat tidak menjadikan rapat Dewan Pembina, di Kemayoran, 23 Januari 2012, sebagai salah satu materi rapat. Pertemuan Dewan Pembina yang terungkap juga membahas posisi Anas sebagai ketua umum, diserahkan sepenuhnya kepada Dewan Pembina. “Yang terkait dengan soal-soal Wanbin (Dewan Pembina-red) dan rapat 23 dan 24 itu kami serahkan sepenuhnya kepada Ketua Wanbin (SBY-red),” ujar Saan.
Kata politisi yang dikenal dekat dengan Anas itu, SBY sebagai Ketua Dewan Pembina tetap intens berkomunikasi dengan jajaran DPP. “Lewat Ketum (Anas-red) dan Sekjen (Ibas-red). Rapat saat ini pun, kami juga bagian dari menjalankan apa yang menjadi arahan ketua Wanbin,” imbuh Saan.
Sementara itu, munculnya empat nama yang disebut-sebut bakal menggantikan Anas Urbaningrum, sepertinya, tidak disepakati secara bulat jajaran petinggi Demokrat. Termasuk oleh Dewan Kehormatan (DK) Partai Demokrat yang mempunyai wewenang memberikan sanksi terhadap kader yang melakukan pelanggaran. “Saya tidak percaya,” tegas anggota DK EE Mangindaan. (jpnn/alt/ags)
Beri komentar