Abah Berpulang
Jumat, 01 Juli 2011 | 10:55 WIB

SERANG - Salah satu tokoh pendiri Provinsi Banten Prof DR (HC) H Tb Chasan Sochib yang akrab dipanggil Abah telah berpulang ke pangkuan-Nya pada usia 84 tahun, Kamis (30/6), di Rumah Sakit Sari Asih, Kota Serang, sekira pukul 03.55 WIB.
Kepulangan Abah yang merupakan ayahanda dari Gubernur Ratu Atut Chosiyah itu disebabkan karena sakit. Sekira pukul 02.00 WIB, Abah dibawa ke Rumah Sakit Sari Asih oleh Gubernur Ratu Atut Chosiyah bersama suaminya Hikmat Tomet dan beberapa anggota keluarga. Namun Abah tidak mampu lagi menahan penyakit yang sudah kompleks dan akhirnya menghembuskan napas terakhir sekira pukul 03.55 WIB. Abah yang merupakan anak dari pasangan H Tb Sochib dan Hj Nyi Ratu Rafiah meninggalkan tiga istri dan 24 anak.
Semasa hidup, Abah banyak berkecimpung dalam berbagai organisasi kemasyarakatan dan kegiatan-kegiatan sosial. Abah yang masih aktif sebagai Ketua Kadin Banten, juga banyak bergelut di berbagai bidang usaha.
Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Banten Komari mengatakan, meninggalnya Abah disebabkan karena usia yang sudah tua dan sakit.
“Namanya orang yang sudah tua, jadi penyakit yang dideritanya juga kompleks. Yang pasti almarhum meninggal dengan tenang dan normal,” ujar Komari saat ditemui di lokasi pemakaman di Pabuaran, Kabupaten Serang, Kamis (30/6). Jenazah Abah dimakamkan di makam keluarga dengan proses militer.
Sementara, pantauan di rumah duka di Jalan Fatah Hasan, Ciceri, Kota Serang, tampak istri almarhum, anak, cucu, cicit, dan sanak saudara. Hanya Ratu Tatu Chasanah yang tidak tampak karena sedang menjalankan ibadah umroh. Selain itu seluruh pejabat di lingkungan Pemprov Banten dan di lingkungan Pemkab dan Pemkot se-Banten turut hadir di rumah duka. Sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para politisi juga tampak memadati kediaman almarhum. Tak ketinggalan para pengusaha dan kolega Abah juga datang untuk berbelasungkawa. Ratusan karangan bunga dari berbagai perusahaan dan pribadi juga tampak berjejer di sekitar halaman dan pinggir Jalan Fatah Hasan.
Saking banyaknya pelayat, Jalan Fatah Hasan macet sejak sekira pukul 07.00 hingga pukul 08.30 WIB. Kemacetan bertambah parah karena banyaknya warga yang datang. Hal itu membuat kepolisian harus bekerja keras untuk mengamankan arus lalu lintas.
Sekira pukul 08.30 WIB, jenazah diberangkatkan dari rumah duka menuju Masjid Agung Albantani di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) untuk disalatkan. Sebelum jenazah tiba, masjid sudah dipadati warga yang akan menyalatkan. Saking banyaknya yang akan menyalatkan, salat jenazah dilakukan dua kali. Salat dipimpin Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten Prof KH Wahab Afief.
Sekira pukul 10.00 WIB, jenazah dibawa ke Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, untuk dikebumikan. Sebelum diberangkatkan, dilakukan penyerahan jenazah secara militer dari keluarga kepada Korem 064/Maulana Yusuf.
Tidak kurang dari 500 kendaraan pribadi dan ratusan kendaraan roda dua mengiringi perjalanan jenazah. Raungan sirine dari ambulance yang membawa jenazah membuat suasana duka makin terasa. Ribuan masyarakat sekitar juga ikut menyaksikan kepergian jenazah.
Kondisi jalan dari KP3B menuju Pabuaran yang hanya bisa dilintasi dua mobil dari arah berlawanan membuat iring-iringan pengantar jenazah berjalan lambat hingga menimbulkan kemacetan panjang.
Setibanya di Pabuaran, masyarakat sekitar kembali melakukan salat jenazah bersama. Jenazah baru dibawa ke peristirahatan terakhirnya sekira pukul 11.30 WIB. Disaksikan keluarga besar, prosesi penguburan dilakukan secara militer.
Mewakili keluarga, Gubernur Ratu Atut Chosiyah meminta kepada seluruh masyarakat Banten untuk membukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya bagi almarhum. Atut berharap masyarakat memaafkan segala kesalahan almarhum, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
“Terima kasih telah mengantarkan jenazah ayahanda kami tercinta. Kami atas nama keluarga besar, memohon kepada seluruh masyarakat Banten untuk memberikan maaf kepada almarhum. Baik kesalahan yang secara sengaja maupun tidak selama masa hidupnya. Doakan juga semoga almarhum diterima di sisi-Nya termasuk amal dan Islam-nya. Semoga kami juga diberi kekuatan,” pinta Atut menutup sambutannya sambil terisak.
Setelah itu, jenazah dimasukkan ke liang lahat. Suara tangisan langsung pecah ketika sejumlah anggota keluarga mulai menimbun jenazah dengan tanah. Salah satu keluarga yang aktif adalah Tb Haerul Jaman, yang merupakan Walikota Serang. Dengan mata memerah dan air mata mengucur, Jaman menguruk jenazah ayahandanya. Bahkan Jaman tidak peduli lagi ketika seluruh bajunya kotor dan berwarna cokelat karena tanah. Sementara Atut, tampak pucat dan lemah saat menyaksikan prosesi pemakaman. Atut ditopang suaminya Hikmat Tomet yang juga hadir dalam pemakaman tersebut.
Sementara itu, Wakil Gubernur M Masduki yang menyampaikan belasungkawa atas nama Pemprov Banten mengatakan, almarhum adalah salah satu putra terbaik yang dimiliki Banten. “Beliau banyak dikagumi dan dihormati karena ketokohannya. Saya atas nama Pemprov Banten dan masyarakat Banten, memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada almarhum. Selamat jalan, semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi-Nya,” kata Wagub yang juga tak kuasa menahan tangis.
Setelah itu, prosesi pemakaman diakhiri dengan doa bersama. Selesai berdoa, hujan deras sempat mengguyur. Namun, hujan tersebut tidak membuat para pelayat meninggalkan lokasi. Mereka masih tampak khusyuk dan larut dalam kesedihan yang mendalam.
Hadir dalam acara pemakaman tersebut mantan Walikota Cilegon Tb Aat Syafaat, Walikota Cilegon Tb Iman Ariyadi, Bupati Pandeglang Erwan Kurtubi, Ketua DPRD Banten Aeng Haerudin, Walikota Tangerang yang juga ketua DPD Partai Demokrat Banten Wahidin Halim (WH), mantan Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung, sejumlah pejabat TNI dan Polri, serta ribuan masyarakat sekitar.
Sosok Disiplin dan Peduli
Sebagai figur yang dituakan di Banten, almarhum Tb Chasan Sochib tentu memiliki banyak kenangan. Salah satu sosok yang dekat dengan almarhum adalah Prof KH Wahab Afif. Pria yang juga ketua MUI Banten itu pula yang memimpin salat untuk almarhum di Masjid Raya Albantani di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B).
Wahab mengatakan, sosok almarhum yang paling diingat adalah kedisiplinan waktu. Menurut Wahab, pada masa pembentukan Satkar Ulama Indonesia di Banten pada 1970, almarhum yang kerap dipanggil Abah itu merupakan salah satu figur sentral. “Saya dan beliau paling semangat untuk membentuk satkar tersebut. Makanya saya paham betul bagaimana beliau karena memang saya sudah sejak lama berteman. Beliau itu orang yang disiplin untuk urusan waktu,” ujar Wahab.
Wahab menambahkan, selama mengenal almarhum, dirinya mengaku tidak pernah berselisih paham. Menurutnya, almarhum selalu bisa menempatkan diri dan mau menerima semua masukan dari orang lain untuknya disaring dan diterapkan. “Karena latar belakang saya bukan pengusaha, jadi saya lebih banyak mengenal sosok almarhum sebagai tokoh pendiri Provinsi Banten yang memiliki semangat muda di usianya yang sudah tua,” ungkapnya.
Ketua DPRD Banten Aeng Haerudin mengatakan hal yang sama. Aeng yang pernah memiliki kedekatan emosional karena pernah `ikut` almarhum selama hampir tiga tahun (1998-2001) itu menyebut sosok Tb Chasan Sochib sebagai pria yang peduli terhadap sesama. Almarhum, kata Aeng, selalu ingin membesarkan orang lain yang memang memiliki keinginan kuat untuk sukses dalam karir dan hidupnya.
“Almarhum tidak pandang latar belakang, suku, ras, atau apa pun untuk menularkan ilmu yang dimilikinya. Ciri-ciri almarhum sayang dengan seseorang adalah dengan berbicara keras seperti orang marah. Padahal itu bukan marah, melainkan melatih kekuatan mental orang tersebut. Saya paham betul,” jelas Aeng dengan semangat.
Selain itu, sebagai sosok yang memiliki latar belakang pengusaha, almarhum dinilai memiliki kelebihan karena sejak awal membuka usaha, almarhum selalu menggandeng siapa saja. “Siapa yang mau kerja keras itu yang dia dorong, dan almarhum tidak pernah membedakan orang. Sehingga banyak kader-kader beliau yang sekarang sukses karena digembleng mentalnya untuk maju. Dan almarhum paling tidak suka dengan orang yang pasif. Saya masih ingat kata-kata almarhum agar kita menjadi orang yang aktif dalam segala hal,” kenangnya.
Aeng pernah memiliki kenangan yang membuatnya semakin kagum kepada sosok almarhum. Kejadian itu terjadi pada 2002. Saat itu, kata Aeng, almarhum yang merupakan seorang kontraktor didatangi oleh pejabat agar mau mengerjakan sebuah proyek besar. “Tapi apa kata beliau? Bapak bilang agar jangan menemuinya dengan alasan dia hanya orang biasa. Yang benar adalah almarhum yang harus menemui pejabat, bukan sebaliknya. Oleh sebab itu, almarhum juga sangat menghormati pejabat meski dia hanya eselon IV, itu yang saya bangga,” kenangnya lagi.
Termasuk kasus kebakaran yang menimpa Pasar Rau pada 1999. “Saat itu almarhum sangat sedih karena melihat Pasar Rau yang memang pasar tradisional dan diisi oleh orang-orang tidak mampu, justru terbakar. Beliau iba dan peduli dengan nasib rakyat kecil. Itu sebagian hal baik yang saya ingat tentang beliau. Tapi memang yang namanya manusia tidak ada yang sempurna, pasti ada salah dan itu tidak pernah saya ingat,” pungkasnya. (bon/alt/ndu)