Hukum

Wadirsabhara Diisukan Terima Suap

SERANG – Wakil Direktur Sabhara (Wadi­rsab­hara) Polda Banten AKBP Widoni ...

Hukum & Kriminal | Kamis, 2 Februari 2012 | Klik: 446 | Komentar

Baca

Penipu Ngaku Wartawan Trans 7

PAMULANG - Penipu yang mengaku wartawan Trans 7 ditang­kap Polsek ...

Hukum & Kriminal | Kamis, 2 Februari 2012 | Klik: 374 | Komentar

Baca

Pimpinan Curanmor Lampung-Aceh Ditembak

TIGARKSA - Satreskrim Polres Metro Tangerang Kabupaten kem­bali menggulung komplotan ...

Hukum & Kriminal | Kamis, 2 Februari 2012 | Klik: 309 | Komentar

Baca


Abah Berpulang

SERANG - Salah satu tokoh pen­­diri Provinsi Banten Prof DR (HC) H Tb Chasan Sochib yang akrab dipanggil Abah te­lah berpulang ke pangkuan-Nya pada usia 84 tahun, Kamis (30/6), di Rumah Sakit Sari Asih, Kota Serang, sekira pu­kul 03.55 WIB.  
Ke­pulangan Abah yang me­rupakan ayahanda dari Gu­bernur Ratu Atut Chosiyah itu disebabkan karena sakit. Se­kira pukul 02.00 WIB, Abah di­bawa ke Rumah Sakit Sari Asih oleh Gubernur Ratu Atut Chosiyah ber­sam­a suaminya Hikmat Tomet dan beberapa anggota keluarga. Na­mun Abah tidak mam­pu lagi me­na­han penyakit yang sudah kom­pleks dan akhir­nya meng­hembuskan napas terakhir sekira pukul 03.55 WIB. Abah yang merupakan anak dari pa­sangan H Tb Sochib dan Hj Nyi Ratu Rafiah mening­gal­kan tiga istri dan 24 anak.
Semasa hidup, Abah banyak ber­kecimpung dalam ber­ba­gai organisasi ke­masya­ra­katan dan kegiatan-kegiatan sosial. Abah yang masih aktif sebagai Ketua Kadin Banten, juga banyak bergelut di ber­bagai bidang usaha.
Kepala Biro Humas dan Pro­tokol Pemprov Banten Ko­­mari mengatakan, me­ninggalnya Abah disebabkan karena usia yang sudah tua dan sakit.
“Namanya orang yang sudah tua, jadi penyakit yang dideritanya juga kompleks. Yang pasti al­marhum meninggal dengan tenang dan normal,” ujar Komari saat di­temui di lokasi pemakaman di Pabuaran, Kabupaten Serang, Kamis (30/6). Jenazah Abah di­ma­kamkan di makam keluarga dengan proses militer.
Sementara, pantauan di rumah duka di Jalan Fatah Hasan, Ciceri, Kota Serang, tampak istri almar­hum, anak, cucu, cicit, dan sanak saudara. Hanya Ratu Tatu Cha­sanah yang tidak tampak karena sedang menjalankan ibadah umroh. Selain itu seluruh pejabat di lingkungan Pemprov Banten dan di lingkungan Pemkab dan Pem­­kot se-Banten turut hadir di rumah duka. Sejumlah tokoh aga­ma, tokoh masyarakat, dan para politisi juga tampak me­ma­dati kediaman almarhum. Tak ketinggalan para pengusaha dan kolega Abah juga datang un­tuk berbelasungkawa. Ratusan ka­rangan bunga dari berbagai pe­r­­usahaan dan pribadi juga tam­pak berjejer di sekitar hala­man dan pinggir Jalan Fatah Hasan.   
Saking banyaknya pelayat, Jalan Fatah Hasan macet sejak sekira pukul 07.00 hingga pukul 08.30 WIB. Kemacetan bertambah parah karena banyaknya warga yang datang. Hal itu membuat ke­polisian harus bekerja keras un­tuk mengamankan arus lalu lintas.
Sekira pukul 08.30 WIB, jenazah diberangkatkan dari rumah duka me­nuju Masjid Agung Albantani di Kawasan Pusat Pemerintahan Pro­­vinsi Banten (KP3B) untuk di­s­alatkan. Sebelum jenazah tiba, masjid sudah dipadati warga yang akan menyalatkan. Saking ba­­nyaknya yang akan me­nya­latkan, salat jenazah dilakukan dua kali. Salat dipimpin Ketua M­a­jelis Ulama Indonesia (MUI) Pro­vinsi Banten Prof KH Wahab Afief.
Sekira pukul 10.00 WIB, jenazah dibawa ke Desa Pabuaran, Ke­camatan Pabuaran, Kabupaten Se­rang, untuk dikebumikan. Se­belum diberangkatkan, di­lakukan penyerahan jenazah se­cara militer dari keluarga ke­pada Korem 064/Maulana Yusuf.
Tidak kurang dari 500 ken­daraan pribadi dan ratusan kendaraan roda dua mengiringi perjalanan jenazah. Raungan sirine dari ambulance yang membawa je­na­zah membuat suasana duka makin terasa. Ribuan masyarakat sekitar juga ikut menyaksikan kepergian jenazah.
Kondisi jalan dari KP3B menuju Pabuaran yang hanya bisa di­lintasi dua mobil dari arah ber­la­wanan membuat iring-iringan pengantar jenazah berjalan lambat hingga menimbulkan ke­macetan panjang.
Setibanya di Pabuaran, ma­syarakat sekitar kembali me­lakukan salat jenazah bersama. Jenazah baru dibawa ke per­is­ti­rahatan terakhirnya sekira pukul 11.30 WIB. Disaksikan ke­luarga besar, prosesi pengu­buran dilakukan secara militer.
Mewakili keluarga, Gubernur Ratu Atut Chosiyah meminta ke­pada seluruh masyarakat Banten untuk membukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya bagi almarhum. Atut berharap masyara­kat memaafkan segala kesalahan almarhum, baik yang disengaja mau­pun yang tidak disengaja.
“Terima kasih telah me­ngan­tarkan jenazah ayahanda kami tercinta. Kami atas nama keluarga besar, memohon kepada seluruh ma­syarakat Banten untuk mem­berikan maaf kepada almarhum. Baik kesalahan yang secara sengaja maupun tidak selama masa hi­dupnya. Doakan juga se­moga al­marhum diterima di sisi-Nya termasuk amal dan Islam-nya. Semoga kami juga diberi kekuatan,” pinta Atut me­nutup sambutannya sambil terisak.
Setelah itu, jenazah dimasukkan ke liang lahat. Suara tangisan lang­sung pecah ketika sejumlah ang­gota keluarga mulai me­nimbun jenazah dengan tanah. Salah satu keluarga yang aktif adalah Tb Haerul Jaman, yang me­rupakan Walikota Serang. Dengan mata memerah dan air mata mengucur, Jaman me­ngu­ruk jenazah ayahandanya. Bah­kan Jaman tidak peduli lagi ke­­tika seluruh bajunya kotor dan berwarna cokelat karena ta­nah. Sementara Atut, tampak pucat dan lemah saat me­nyak­si­kan prosesi pemakaman. Atut ditopang suaminya Hikmat Tomet yang juga hadir dalam pemakaman tersebut.
Sementara itu, Wakil Gubernur M Masduki yang menyampaikan be­lasungkawa atas nama Pem­prov Banten mengatakan, al­mar­hum adalah salah satu putra terbaik yang dimiliki Banten. “Beliau banyak dikagumi dan dihormati karena ketokohannya. Saya atas nama Pemprov Banten dan masyarakat Banten, mem­berikan penghargaan setinggi-tingginya kepada almarhum. Selamat jalan, semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi-Nya,” kata Wagub yang juga tak kuasa menahan tangis.
Setelah itu, prosesi pemakaman diakhiri dengan doa bersama. Sel­esai berdoa, hujan deras sem­pat mengguyur. Namun, hujan tersebut tidak membuat para pela­yat meninggalkan lokasi. Me­reka masih tampak khusyuk dan larut dalam kesedihan yang mendalam.
Hadir dalam acara pemakaman ter­sebut mantan Walikota Ci­le­gon Tb Aat Syafaat, Walikota Cilegon Tb Iman Ariyadi, Bupati Pandeglang Erwan Kurtubi, Ketua DPRD Banten Aeng Haerudin, Walikota Tangerang yang juga ke­tua DPD Partai Demokrat Ban­ten Wahidin Halim (WH), man­tan Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung, sejumlah pe­jabat TNI dan Polri, serta ribuan masyarakat sekitar.

Sosok Disiplin dan Peduli
Sebagai figur yang dituakan di Banten, almarhum Tb Chasan Sochib tentu memiliki banyak kenangan. Salah satu sosok yang dekat dengan almarhum ada­lah Prof KH Wahab Afif. Pria yang juga ketua MUI Banten itu pula yang memimpin salat untuk al­marhum di Masjid Raya Al­bantani di Kawasan Pusat Pe­me­rintahan Provinsi Banten (KP3B).
Wahab mengatakan, sosok al­marhum yang paling diingat ada­lah kedisiplinan waktu. Me­nurut Wahab, pada masa pem­bentukan Satkar Ulama Indonesia di Banten pada 1970, almarhum yang kerap dipanggil Abah itu me­rupakan salah satu figur sen­tral. “Saya dan beliau paling se­mangat untuk membentuk sat­kar tersebut. Ma­kanya saya pa­ham betul bagaimana beliau karena memang saya sudah sejak lama berteman. Beliau itu orang yang disiplin untuk urusan waktu,” ujar Wahab.
Wahab menambahkan, selama me­ngenal almarhum, dirinya me­ngaku tidak pernah berselisih paham. Menurutnya, almarhum selalu bisa menempatkan diri dan mau menerima semua ma­sukan dari orang lain untuknya disaring dan diterapkan. “Karena latar be­lakang saya bukan pengusaha, jadi saya lebih banyak mengenal sosok almarhum sebagai tokoh pendiri Provinsi Banten yang memiliki semangat muda di usianya yang sudah tua,” ungkapnya.
Ketua DPRD Banten Aeng Haerudin mengatakan hal yang sama. Aeng yang pernah memiliki kedekatan emosional karena pernah `ikut` almarhum selama hampir tiga tahun (1998-2001) itu menyebut sosok Tb Chasan Sochib sebagai pria yang peduli terhadap sesama. Almarhum, kata Aeng, selalu ingin mem­besar­kan orang lain yang me­mang memiliki keinginan kuat untuk sukses dalam karir dan hidupnya.
“Almarhum tidak pandang latar be­lakang, suku, ras, atau apa pun untuk menularkan ilmu yang dimilikinya. Ciri-ciri almar­hum sayang dengan seseorang adalah dengan berbicara keras seperti orang marah. Padahal itu bukan marah, melainkan me­latih kekuatan mental orang ter­sebut. Saya paham betul,” jelas Aeng dengan semangat.
Selain itu, sebagai sosok yang me­miliki latar belakang pe­ngu­saha, almarhum dinilai memiliki kelebihan karena sejak awal mem­buka usaha, almarhum selalu menggandeng siapa saja. “Siapa yang mau kerja keras itu yang dia dorong, dan almarhum tidak pernah membedakan orang. Sehingga banyak kader-kader beliau yang sekarang sukses karena digembleng men­talnya untuk maju. Dan al­mar­hum paling tidak suka de­ngan orang yang pasif. Saya masih ingat kata-kata almarhum agar kita menjadi orang yang aktif dalam segala hal,” kenangnya.
Aeng pernah memiliki ke­na­ngan yang membuatnya semakin kagum kepada sosok almarhum. Kejadian itu terjadi pada 2002. Saat itu, kata Aeng, almarhum yang merupakan seorang kon­traktor didatangi oleh pejabat agar mau mengerjakan sebuah proyek besar. “Tapi apa kata beliau? Bapak bilang agar jangan menemuinya dengan alasan dia hanya orang biasa. Yang benar adalah almarhum yang harus me­nemui pejabat, bukan se­baliknya. Oleh sebab itu, al­marhum juga sangat meng­hormati pejabat meski dia hanya eselon IV, itu yang saya bangga,” kenangnya lagi.
Termasuk kasus kebakaran yang menimpa Pasar Rau pada 1999. “Saat itu almarhum sangat sedih karena melihat Pasar Rau yang memang pasar tradisional dan diisi oleh orang-orang tidak mam­pu, justru terbakar. Beliau iba dan peduli dengan nasib rakyat kecil. Itu sebagian hal baik yang saya ingat tentang beliau. Tapi memang yang na­manya manusia tidak ada yang sem­purna, pasti ada salah dan itu tidak pernah saya ingat,” pung­kasnya. (bon/alt/ndu)

Beri komentar


Security code
Refresh


Komentar Terakhir