"Hubungan partai dengan pemilih pada tahun ini terus melemah. Lebih banyak pemilih mengambang dari mereka yang memilih partai," ujar Saiful Mujani, Direktur Eksekutif LSI, dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu (29/5).
Survei LSI pada 15-25 Mei itu menunjukkan, hampir seluruh partai penghuni parlemen mengalami penurunan perolehan suara. Golkar yang selalu berada di tempat kedua di belakang Demokrat, kini turun di peringkat tiga dengan 12,5 persen suara. Hanya PDIP yang tren suaranya naik, dari 14,3 persen di survei terakhir, kini melonjak menjadi 16,7 persen.
Menurut Mujani, kecenderungan Demokrat saat ini memang masih unggul. Namun, sentimen responden terhadap partai berlambang mirip segitiga Mercy ini terus menurun. Bulan madu Demokrat pasca pemilu 2009 yang menunjukkan tren kenaikan saat ini sudah berakhir. "Ini sejarah pertama Demokrat, ada penurunan tren suara pemilu," kata dia.
Penurunan suara Demokrat, ujar Mujani, belum memperhitungkan dampak isu negatif kasus yang menimpa kader Demokrat Muhammad Nazaruddin. Ini karena, survei LSI ketika itu sama sekali tidak mengukur keterkaitan itu dalam pertanyaan kepada responden. "Bisa saja pengaruh itu besar, namun kami belum memiliki ukurannya," jelasnya.
Mujani menyatakan, kecenderungan turunnya suara Demokrat disebabkan karakter pemilihnya yang tidak stabil. Ini berbeda dengan suara yang diraih Partai Golkar dan PDIP. Kedua partai itu tidak mengalami fluktuasi yang tajam. Hal ini disebabkan kecenderungan dua partai lama itu yang memiliki pemilih loyalis.
Hanya bedanya, PDIP yang berada di luar pemerintahan lebih diuntungkan dipilih oleh responden. "Golkar dan PDIP stabil, namun Golkar tidak mampu menarik pemilih baru," kata Mujani. Para pemilih yang tidak stabil itu berasal dari responden dengan latar belakang pendidikan tinggi. Sementara Golkar dan PDIP memiliki pemilih loyal di masyarakat dengan latar pendidikan lebih rendah.
Secara keseluruhan, turunnya tren pemilih disebabkan banyak responden yang belum menjatuhkan pilihannya kepada salah satu partai. Responden yang masih mengambang itu jumlahnya signifikan, mencapai 29,6 persen. Mayoritas mereka belum memilih partai karena kecewa dengan kinerja anggota Dewan yang mengecewakan.
Menurut Mujani, instabilitas pemilih partai ini merupakan tren yang tidak sehat. Para pemilih tampaknya sudah mulai jenuh dengan kinerja partai. Indikatornya, di tiga gelaran pemilu terakhir memiliki pemenang yang berbeda-beda. Fakta yang patut dikhawatirkan, jumlah pemilih di tiga pemilu terakhir juga terus merosot. "Penurunan jumlah pemilih ini terlalu tajam dan cepat," ujarnya mengingatkan.
Pengamat Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk menilai, kelemahan yang dimiliki parpol di Indonesia adalah ketidakmampuan merekrut pemilih loyalis. Sebagai lembaga politik, parpol di Indonesia tidak mampu bersosialisasi di tengah publik secara luas. "Kalau partai sudah bekerja, dia pasti menjadi diinginkan. Otomatis pemilih mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari partai," kata Hamdi di tempat yang sama.
Yang terjadi pada parpol Indonesia adalah lemahnya pemilih memiliki identitas partai secara spesifik. Parpol tidak memberikan sumbangsih berdasarkan isu yang dibutuhkan oleh publik. Kecenderungan parpol selalu memberikan kampanye instan yang tidak substantif. "Kalau party ID (pemilih dengan identitas partai) lemah, berarti partai tidak hadir di tengah publik," kata dia.
Karena tidak memiliki kerja nyata, parpol di Indonesia acapkali mengandalkan tokoh sebagai nilai jual. Kampanye semacam ini memang efektif, namun tidak sehat. Pada akhirnya parpol tidak akan bekerja, dan hanya berlomba-lomba mencari tokoh demi nilai jual. "Di sini, parpol bukan lembaga publik, tapi karakteristik personal," jelasnya.
Turunnya partisipasi pemilih di tiga periode terakhir pemilu, juga merupakan peringatan berbahaya. Publik bisa jadi memiliki sikap tidak percaya kepada parpol akibat kinerjanya yang tidak pernah berubah. Perlu ada perubahan dari parpol sehingga menjadi lembaga publik yang sebenarnya. "Bagaimana keluar dari ini. Parpol harus hilang dari dukungan dana cukong," tandasnya.
Golkar Kambinghitamkan Koalisi
Partai Demokrat berusaha memahami hasil survei LSI terakhir. Namun, partai peraih suara terbanyak pada Pemilu 2009 lalu itu tetap yakin kalau penurunan suara itu hanya sementara. "Tidak apa-apa, masih ada waktu, ini semua kan masih berproses hingga 2014," ujar Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Max Sopacua saat dimintai komentar terkait hasil survei LSI terakhir. Dia mengakui, ribut-ribut terkait keterlibatan sejumlah kader dalam dugaan kasus sesmenpora memang berpengaruh. Terutama, terhadap persepsi publik terhadap partai.
Namun, dia yakin, dengan komitmen partainya tetap bekerja bagi bangsa maka rakyat dengan sendirinya akan kembali memberikan kepercayaan. "Harus tetap bijak melihat (hasil survei), kami yakin ke depan hasilnya akan pulih dan berkembang lagi," tandas mantan presenter teve pemerintah itu.
Golongan Karya menilai turunnya perolehan suara mereka disebabkan oleh faktor koalisi di pemerintahan. Meskipun menjadi anggota koalisi yang kritis, kinerja Golkar dianggap menurun saat roda pemerintahan saat ini berjalan kurang efektif.
"Golkar itu selalu memegang dampak aspek, karena semua risiko yang terkait di pemerintah berimbas di koalisi," kata Nurul Arifin, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar saat dihubungi, kemarin.
Menurut Nurul, jika melihat tren yang terlihat pada survei, seluruh partai anggota koalisi menurun. Saat ini, Demokrat yang diterpa berbagai isu negatif mengalami penurunan yang tidak sedikit. Hal itu ternyata berimbas pada Partai Golkar sebagai anggota koalisi. "Jika Demokrat menurun, otomatis Golkar menurun," kata dia.
Menurut Nurul, ada baiknya jika Golkar mempertimbangkan sikapnya di dalam koalisi. Ini karena, kekritisan Golkar nantinya bakal lebih berguna dan dilihat publik jika berada di luar pemerintahan. "Karena apa pun yang kita kerjakan, mengkritisi akan dianggap sandiwara," sorotnya.
Terhadap keberadaan pemilih mengambang yang jumlahnya signifikan, Nurul menilai hal itu harus dimanfaatkan. Partai Golkar memiliki pengalaman panjang untuk membangun komunikasi dengan publik. Salah satu caranya, dengan memberikan program nyata yang langsung menyentuh rakyat. "Selama ini, hal itu yang menjadi keunggulan Golkar," jelasnya.
Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan Bambang Wuryanto menilai, hasil survei LSI tidak bisa dijadikan ukuran. Sebab, dengan situasi dan perkembangan isu saat ini, hasil survei merupakan sebuah data yang sifatnya dinamis. "Masyarakat masih rentan dengan isu, belum terdidik dengan baik," kata Bambang.
PDIP sendiri, kata Bambang, mencoba membangun hubungan dengan publik dengan mengefektifkan fungsi partai. Mulai dari fungsi aspirasi, artikulasi, dan agregasi semuanya kini tengah dimaksimalkan oleh PDIP. "Sebaiknya mendidik masyarakat supaya tidak terjebak dengan isu-isu," tandasnya. (jpnn/alt/ndu)