Kisah Daeng tentang Laut yang Sedang Tak Bersahabat

  Editor :  Aas Arbi

 


Wajah Herman Daeng Parukka menatap laut Karangantu, Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang dengan murung. Sudah hampir sebulah perahunya tidak pernah merasakan hempasan ombak untuk mencari ikan. Cuaca yang kurang bersahabat sejak awal Januari 2014 membuat ia bersama nelayan lain terpaksa menghabiskan waktu di rumah bersama anak istri.

Daeng, begitu ia akrab disapa, memang bukan lelaki pemalas. Tidak melaut bukan berarti tangannya berhenti mengerjakan sesuatu. Dalam kondisi cuaca seperti ini, ia akan menyulam jala, menambal perahu atau apa saja aktivitas ia kerjakan demi menghilangkan suntuk yang bertumpuk dan kemelut hari-hari tanpa penghasilan.

“Gelomnbang besar. Tidak hanya di karangantu, tapi teman yang di Pulau Panjang bernasib sama,” ungkapnya kepada radarbanten.com, Minggu (26/1/2013).

Dalam keadaan seperti ini, keluh Daeng, nelayan akan menganggur dan hanya bisa gigit jari. Pengahsilannya otomatis terhenti, namun kebutuhan sehari-hari harus terus terpenuhi.

“Makanya jangan korban banjir saja yang dipikirkan pemerintah. Nelayan seperti kami ini juga harus dipikirkan,” harapnya.

Gelombang di perairan Karangantu memang sedang kurang bersahabat. Dalam cuaca seperti ini, ketinggian gelombang menurut sumber BMKG Stasiun I Serang mencapai tiga hingga empat meter. “Nelayan sini rata-rata Cuma punya perahu kecil. Mereka pakai tipe GT-18. Kalau dipaksakan melaut, perahu bisa terhempas ombak dan terbalik.”

Sabtu (25/1/2014) malam yang lalu, menurut Daeng, ada delapan nelayan yang berasal dari Cirebon. Mereka nelayan pendatang yang mencoba nekat mencari peruntungan di perairan Pulau Tunda. “Perahu mereka terbalik. Beruntung delapan orag tersebut dapat diselamatkan,” jelasnya.

Kehadiran para pendatang seperti ini sudah biasa menurut Daeng. “Ya kita sesama nelayan,bukan seperti tanam ikan di empang. Mereka datang dari jauh, ya belum tentu juga hasilnya. Tinggal bagaimana nelayan bersukur. Dan lagi bukan nelayan yang punya laut, tapi Tuhan,” ungkapnya.

Selain faktor cuaca, menurut Daeng, kondisi laut di Karangantu juga sudah tidak lagi seperti pada tahun 90-an. “Dulu ikan itu bisa ditangkap di pinggir laut. Sekarang ikannya tidak bersahabat karena alamnya rusak.”

Ikan dari Luar Daerah
Ketika cuaca sedang buruk seperti ini, suplai ikan di Karangantu pun terganggu. Ikan terpaksa didatangkan dari Jakarta, Labuan dan sekitarnya. “Ya karena tidak ada ikan di sini,” paparnya.

Dalam kondisi cuaca normal Daeng mengaku bisa mendapat Rp100 ribu per hari. “Itu kotor, belum dipotong solar dan perbekalan.”

Pernah ada nelayan yang memaksakan diri untuk melaut, kata Daeng, namun mereka hanya mendapatkan dua ekor ikan. "Mau dijual berapa. Paling harga ikan Rp7.500 per ekor. Sedangkan ongkos melautnya berapa. Sudah pasti nombok."

Di Karangantu sendiri, kata Daeng ada 17 kelompok nelayan yang terdiri dari 1.300 anggota. Sementara perahu yang beroperasi dapat mencapai 400 perahu. “Kalau sedang seperti ini tidak ada satu pun yang melaut. Mau makan apa anak istri,”

Daeng memang punya tanggung jawab lebih dibanding nelayan lain. Selain ia harus memenuhi kebutuhan kelluarganya dari melaut, ia juga dipercaya sebagai Sekretaris Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokawasmas) Anugrah Mandiri Kota Serang di bawah Dinas Kelautan dan Perikanan.

Walau bagaimana pun, Daeng tetap berharap cuaca akan segera membaik supaya nelayan dapat kembali melaut. “Semoga cuaca akan segra kembali stabil dan kami bisa kembali melaut,” harapnya. (Wahyudin)


Tag : nelayan