Ilustrasi  ( * )

Polda dan Tim Ahli UI Audit Fisik Proyek Sodetan Rp 19 M

  Editor :  Ade Jahran

 

MALINGPING - Audit fisik bangunan sarana dan prasarana Sodetan Cibinuangeun di Kampung Burunuk, Desa Sukamanah, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, dilakukan pada Jumat (5/4). Penyidik Subdit III Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polda Banten kembali mendatangkan pakar konstruksi dari Universitas Indonesia (UI) dalam tahap penyidikan perkara korupsi proyek APBN 2011 senilai Rp19 miliar tersebut.

Sebelumnya, pada Sabtu (28/7/2012) dan Minggu (29/7/2012) cek fisik dilakukan enam pakar konstruksi dari UI. Atas permintaan penyidik Polda Banten, tim yang dipimpin Prof Dr Ing Ir Bambang Suharno, pakar desain panduan dan metalurgi pengecoran logam (aluminium casting dan alloy steel casting), dan Dr Ing Ir Henki Wibowo Ashadi, pakar standardisasi laboratorium konstruksi, memeriksa dan mengambil sampel bangunan proyek tersebut, seperti ground the sill, jeti sepanjang 150 meter, penguatan tebing dengan beronjong sepanjang 102 meter, sypon sepanjang 46 meter, tanggul tanah di kiri-kanan sungai sepanjang 240 meter, dan galian tanah sepanjang 240 meter diambil untuk diuji di laboratorium konstruksi UI.

Hasilnya, proyek di Pelaksana Jaringan Sumber Air (PJSA) Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC-3) tersebut sarat penyelewengan. Dugaan kecurangan konstruksi proyek APBN 2011 itu telah bisa dibuktikan. Di antaranya, 100 ton besi beton dan 1.043 meter kubik pembetonan tidak dipasang. Lapisan beton yang seharusnya kualitas 225, tetapi hasilnya cuma kualitas 95.

Seperti yang dikutip dari Radar Banten, Jumat (5/4), Kepala Subdit III Tipikor Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Zuhardi mengatakan, audit fisik uji volume dan mutu bangunan proyek ini untuk melengkapi berkas penyidikan yang telah menetapkan dua tersangka. Yakni, Pejabat Pembuat Komitemen (PPK) BBWSC-3 berinisial DD dan direktur PT Delima Agung Utama berinisial YS.

“Kami bersama tim ahli dari UI melakukan pemeriksaan uji volume dan mutu. Sebelumnya, juga sudah dilakukan di tahap penyelidikan,” katanya di lokasi proyek.

Audit fisik ini lebih detail dibandingkan kegiatan serupa pada tahap penyelidikan.  "Beberapa material bangunan dicek tim ahli. Nah, setelah selesai, laporannya akan kami serahkan ke BPKP untuk ditindaklanjuti,” jelas Zuhardi.

Dr Ing Ir Henki Wibowo Ashadi membenarkan, dia dan empat rekannya akan mengambil sampel bangunan untuk diteliti. “Beberapa material bangunan, seperti besi dan tembok beton kami ambil untuk menjadi sampel penelitian di laboratorium. Hasilnya akan diketahui setelah kami mengadakan uji material. Ya, sekitar dua atau tiga minggulah,” tukasnya. (RB)


Tag : Kasus Sodetan