Dialek Bahasa Jawa Banten

  Editor :  Aas Arbi

 


KETIKA saya mengamati tulisan narasi anak-anak di sekolah dasar, terutama di daerah Tangerang Barat yang mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Jawa standar, masih banyak anak didik yang menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar dalam tulisan, sehingga terjadi interferensi dalam pembelajaran  bahasa Indonesia.   

Penguasaan  bahasa Indonesia adalah sangat  penting,  bagi  seluruh penduduk   Indonesia terutama generasi penerus bangsa, karena dengan  penguasaan    bahasa Indonesia maka  kita  bisa  berkomunikasi  dengan  mudah  dengan berbagai suku bangsa  yang   ada   di  Indonesia.   Sebagai alat  pengantar  kebahasaan  untuk itu pengajaran bahasa itu  dimulai  dari lingkungan keluarga sehingga anak terbiasa menggunakan  bahasa  Indonesia,  dalam   pembelajaran    bahasa   itu   mencakup  empat aspek utama, yaitu 1) menyimak, 2) berbicara, 3) membaca, dan 4) menulis. Bahasa  merupakan  faktor  penting  dalam  kehidupan  manusia karena bahasa digunakan dalam berbagai macam aspek kehidupan, baik kehidupan di lingkungan sekitar  rumah nya  maupun  di lingkungan   sekolah,  karena  dengan  bahasa, memudahkan kita  untuk berkomunikasi.

Setiap orang dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa. Bahasa  merupakan salah satu alat komunikasi. Manusia menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi untuk saling berhubungan, berbagi pengalaman penyampaian ide dan gagasan. Bahasa dipergunakan oleh manusia dalam segala aktivitas kehidupan. Dengan demikian, bahasa merupakan hal yang paling hakiki dalam kehidupan manusia.

Bahasa dapat berkembang karena adanya kontak dengan bahasa dan budaya lain sehingga perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan  dapat diikutinya. Didalam sejarah manusia pemilihan suatu bahasa sebagai lingua franca, yakni bahasa perantara orang yang latar budayanya berbeda, bahasa kebangsaan, atau bahasa internasional tidak pernah dibimbing, oleh pertimbangan linguistik, logika, estetika, tetapi selalu dalam patokan politik, ekonomi, dan demografi. Bahasa Indonesia sangat luas wilayah pemakainya dan bermacam ragam penuturnya, mau tidak mau, takluk pada hukum perubahan. Arah perubahan itu tidak selalu tak terelakan karena kita pun dapat mengubah bahasa secara berencana. Faktor sejarah dan perkembangan masyarakat turut pula berpengaruh pada timbulnya sejumlah ragam bahasa Indonesia. Ragam bahasa yang beraneka macam itu tetap disebut bahasa Indonesia. Ciri dan kaidah tata bunyi, pembentukan kata, dan tata makna umumnya sama. Itulah sebabnya kita masih dapat memahami orang lain yang berbahasa Indonesia walaupun masih dikenali beberapa perbedaan dalam mengungkapkan bahasa Indonesianya. Hal ini karena pengaruh bahasa daerah.

Sesuatu hal yang perlu dijaga adalah bahwa dalam mengembangkan bahasa nasional ini, di satu pihak, kita harus bersikap terbuka, tetapi dipihak lain, kita harus waspada. Bahasa Indonesia ialah bahas penting yang dikawasan Republik Indonesia. Namun ada beberapa alasan lain, mengapa bahasa Indonesia menduduki tempat yang terkemuka di antara beratus-ratus bahasa nusantara yang masing-masing penting bagi penuturnya, sebagai bahasa ibu.    

Pada  umumnya, di Indonesia pemerolehan  bahasa  pertama adalah  bahasa daerah dan  berbahasa  kedua   bahasa  Indonesia. Situasi  kebahasaan  yang   demikian  belum  banyak mendapat  perhatian   dalam   pengajaran  bahasa Indonesia. Bahkan, terkesan bahwa  teori-teori dasar pengajaran bahasa Indonesia hanya  mengambil  teori  bahasa  asing  yang  tidak  diolah  kembali  berdasarkan situasi kebahasaan masyarakat  Indonesia. Padahal, ciri - ciri  kebahasaan bahasa daerah, bahasa Indonesia, sangat   berbeda  dengan situasi masyarakat asing.               

Bahasa  pertama  masyarakat  kita pada umumnya berupa bahasa daerah, tetapi ada   beberapa   ratus   bahasa   daerah yang masing-masing mengadakan kontak dengan  bahasa Indonesia.  Akibat  dari  kontak  bahasa  itu akan mempengaruhi wujud bahasa Indonesia. Hal ini juga akibat dari pemakaian bahasa yakni bahasa Ibu, bahasa Daerah, bahasa Melayu, dan bahasa asing.

Mempelajari bahasa bukanlah serangkaian langkah mudah yang biasa diprogram dalam sebuah panduan ringkas. Akan tetapi bahasa diperoleh dari hasil proses pembelajaran sehingga pemahaman bahasa lebih teratur dan terarah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Artinya seperti kita ketahui belajar bahasa itu bukan pemberian, tetapi adalah proses di mana bahasa yang kita pelajari pertama kali yang disebut bahasa ibu (B1) itu pemberian dari lingkungan sekitar melalui proses adaptasi, sehingga untuk pembelajaran bahasa kedua (B2) memerlukan pemahaman yang mendalam, karena pengaruh bahasa ibu masih melekat didalam keseharian. Untuk itu perlu proses yang mendalam.  
 
Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuan berbahasanya. Artinya di sini, bahwa manusia berpikir itu menggunakan simbol-simbol, melalui pengucapan bahasa. Tanpa bahasa manusia tak mungkin mengembangkan budaya.   

Selain fungsi bahasa secara umum itu, bagi bangsa Indonesia ada lagi dua   fungsi bahasa Indonesia secara khusus dan sangat penting kita pahami, yaitu (1) sebagai bahasa nasional, dan (2) sebagai bahasa Negara.

Pentingnya peranan bahasa Indonesia bagi bangsa Indonesia tercermin pada ikrar ketiga sumpah pemuda 1928 yang berbunyi: “kami poetra dan poetri Indonesia menjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia” dan pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 36 yang didalamnya dinyatakan bahwa “bahasa negara ialah bahasa Indonesia”. Ikrar sumpah pemuda 1928 menegaskan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional atau bahasa kebangsaan, sedangkan hakikat bahasa negara dalam UUD 1945 tidak lain dari menegaskan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Negara Republik Indonesia.

Sebagai lambang kebanggaan nasional, bahasa Indonesia harus mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita. Atas dasar kebangsaan ini bahasa Indonesia kita pelihara dan kita kembangkan, dan rasa kebanggaan memakainya senantiasa kita bina dan mempertahankannya.

Tujuan umum pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia dilembaga-lembaga pendidikan  adalah memantapkan  kedudukan  dan fungsi bahasa Indonesia. Jika ditinjau dari  sudut  penutur  bahasa  Indonesia, Posisi bahasa Indonesia berada dalam dua tugas. Tugas pertama adalah  bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia tidak mengikat pemakainya untuk sesuai dengan kaidah dasar. Bahasa Indonesia digunakan secara nonresmi, santai, dan bebas. Yang dipentingkan dalam pergaulan dan perhubungan antarwarga adalah makna yang disampaikan. Pemakai bahasa Indonesia dalam konteks bahasa nasional dapat dengan bebas menggunakan ujarannya baik lisan, tulis, maupun lewat kineksinya. Kebebasan penggunaan ujaran itu juga ditentukan oleh konteks pembicaraan.Tugas kedua adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Sebagai bahasa negara berarti bahasa Indonesia adalah bahasa resmi. Dengan begitu, bahasa Indonesia harus digunakan sesuai dengan kaidah, tertib, cermat, dan masuk akal. Bahasa Indonesia yang  dipakai harus lengkap dan baku. Tingkat kebakuannya diukur oleh aturan kebahasaan dan logika pemakaian.  Dari dua tugas itu, posisi bahasa Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus terutama bagi pemebelajar bahasa Indonesia.           

Selain  itu,  maka  tujuan umum pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia merupakan suatu tujuan dalam pendidikan untuk tercapainya suatu pembelajaran bahasa Indonesia agar siswa-siswi  memiliki  keterampilan  berbahasa  Indonesia yang baik  dan benar  yang  sesuai  (EYD)  serta   dapat  mempertanggung jawabkan dalam berbahasa Indonesia.

Pembelajaran   bahasa   Indonesia disekolah  pada  masa sekarang ini ditujukan kepada kemampuan komunikasi siswa dalam berbahasa, baik secara lisan maupun tulis. Hal  ini   dapat  dilihat  dalam   kurikulum  pengajaran   bidang  studi   bahasa Indonesia dan Garis-garis Besar Program Pengajaran 2003 Bahasa memungkinkan manusia untuk saling  berhubungan ( berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling  belajar  dari  yang  lain,  dan  untuk meningkatkan kemampuan intelektual. Pelajaran Bahasa dan  Sastra Indonesia  adalah  program  untuk  mengembangkan pengetahuan,   keterampilan     berbahasa,  dan   sikap   positif   terhadap   bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia sangat luas wilayah pemakainya dan bermacam ragam penuturnya, mau tidak mau, takluk pada hukum perubahan. Arah perubahan itu tidak selalu tak terelakan karena kitapun dapat mengubah bahasa secara berencana. Faktor sejarah dan perkembangan masyarakat turut pula berpengaruh pada timbulnya sejumlah ragam bahasa Indonesia. Ciri dan kaidah tata bunyi, pembentukan kata, dan tata makna umumnya sama. Itulah sebabnya kita masih dapat memahami orang lain yang berbahasa Indonesia walaupun masih dikenali beberapa perbedaan dalam mengungkapkan bahasa Indonesianya. Hal ini terjadi karena pengaruh bahasa daerah.

Dalam bahasa Indonesia masa kini terdapat unsur bahasa daerah. Hal ini sangatlah wajar dan jangan serta merta dianggap pencemaran. Kejadian asimilasi bahasa itu di satu pihak dapat membantu asimilasi bangsa, dan pihak lain dapat menjamin kelangsungan hidup  bahasa daerah yang bersangkutan yang harus menyesuaikan dirinya dengan arus perkembangan masyarakatnya. Karena itu, hubungan kedua macam bahasa itu seyogyanya dikembangkan kearah bagi tugas yang saling melengkapi. Dalam upaya memperkaya kosa kata bahasa Indonesia, kita sering tidak dapat terlepas dari pengaruh dunia internasional karena komunikasi antar bangsa memang tak dapat dicegah. Dalam hal ini, bahasa Indonesia dapat memanfaatkan bahasa-bahasa asing yang dapat memberikan sumbangan untuk mengembangkan bahasa nasional. Kontribusi dari bahasa asing kedalam suatu bahasa sebenarnya merupakan suatu hal lumrah dan tak perlu dikuatirkan selama kita tetap waspada terhadap penyalahgunaannya.  

Ragam daerah sejak lama dikenal dengan nama logat atau dialek. Bahasa yang menyebar luas selalu mengenal logat. Masing-masing dapat dipahami secara  timbal balik oleh penuturnya, sekurang-kurangnya oleh penutur dialek yang daerahnya berdampingan. Jika di dalam wilayah pemakainya orang tidak mudah berhubungan, misalnya  karena tempat kediamannya dipisahkan oleh pegunungan, selat atau laut, maka lambat laun logat itu dalam perkembangannya akan berubah sehingga akhirnya dianggap bahasa yang berbeda.

Bahasa Jawa Banten termasuk yang kurang terkenal gaungnya dibandingkan dengan bahasa Jawa Cirebon dan bahasa Jawa lainnya. Hal ini tidak terlepas dari sejarah berdirinya Provinsi Banten yang pada mulanya daerah Banten termasuk kedalam Propvinsi Jawa Barat. Mayoritas penduduk Provinsi Jawa Barat berbahasa daerah Sunda, bahkan bahasa Sunda ini dipelajari di sekolah-sekolah sebagai bahasa daerah sehingga ketika Banten memisahkan diri dari Provinsi Jawa Barat, bahasa Sunda sudah melekat erat sebagai bahasa daerah agak sulit diepaskan begitu saja, karena memang di Banten sendiri terutama di daerah Tangerang memilki tiga bahasa daerah yaitu Sunda, Jawa dialek Banten, dan dialek Jakarta. Daerah-daerah tersebut adalah daerah yang terdapat di Kabupaten Tangerang utara dan barat berbahasa Jawa dan Sunda, Tangerang selatan dan timur berbahasa Sunda dan dialek Jakarta.

Daerah yang menggunakan bahasa Jawa dialek Banten. Dalam bahasa Jawa dialek Banten ada 2 tingkatan bahasa, yaitu (1) bahasa Jawa halus disebut bebasan/krama digunakan  untuk menghormati orang tua atau usianya lebih tua, dan (2) bahasa Jawa percakapan/standar digunakan oleh semua kalangan dari anak-anak sampai orang tua.

Para generasi muda di Tangerang dan sekitarnya, terutama anak-anak usia balita yang berdomisili di pusat kota pada umumnya tidak dapat berbahasa Jawa dialek Banten. Sejak kecil mereka diperkenalkan dengan bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Jawa merupakan bahasa kedua. Hanya warga yang tinggal di pelosok pedesaan yang masih bisa atau menggunakan bahasa Jawa, itupun bahasa Jawa standar yaitu bahasa percakapan sehari-hari, sedangkan bahasa bebasan/krama atau bahasa halusnya tidak mengerti. (*)

AGUS SULAEMAN KRONJO
Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Tangerang, guru SMPN Satap Waliwis Kecamatan Mekarbaru


Tag : bahasa jawa Banten